Wet rice Cultivation in Indonesia
By:"B.C BOLMAN"
Published on by Elkrimbouziane
E-book Library:
This Book was ranked 4 by Google Books for keyword dewi sri.
Thank youE-Book University
Wet rice Cultivation in Indonesia
By:"B.C BOLMAN"
Published on by Elkrimbouziane
E-book Library:
This Book was ranked 4 by Google Books for keyword dewi sri.
Thank youThe Son of Neptune
By:"Rick Riordan"
Published on 2015-11-04 by Noura Books
E-book Library:"Juvenile Fiction"
\
This Book was ranked 14 by Google Books for keyword dewa yunani.
Thank youIbrahim Sang Sahabat Tuhan
By:
Published on by Penerbit Serambi
E-book Library:
This Book was ranked 2 by Google Books for keyword dewa mesir.
Thank youIndonesia Dalam Kajia Sarjana Jepang
By:
Published on by Yayasan Obor Indonesia
E-book Library:
This Book was ranked 21 by Google Books for keyword penelitian kejawen.
Thank youNama Buah Hati Pembawa Hoki
By:"Imam Khoiri, S.Pd","Rosiana Aminah"
Published on 2011-05-01 by VisiMedia
E-book Library:"Family & Relationships"
Memberi nama untuk buah hati (bayi) merupakan pekerjaan yang gampang-gampang susah. Banyak orangtua yang begitu mudah memberikan nama yang indah dan bermakna dengan berbagai harapan, tetapi tidak sedikit pula yang mengalami kesulitan atau kebingungan.Buku ini merupakan salah satu solusi bagi para orangtua, khususnya orangtua muda yang baru memiliki anak pertama, dalam memilih nama-nama untuk buah hati. Di dalamnya ditulis nama-nama bayi laki-laki, perempuan, kembar laki-laki, kembar perempuan, dan kembar laki-laki dengan perempuan dari berbagai bahasa dan tokoh-tokoh terkenal sepanjang masa. Selain itu, penulis yang anak-anaknya ranking satu di sekolahnya ini juga memberi tip seputar kehamilan dan perawatan bayi (balita) sehingga buku ini menjadi lengkap dan bermanfaat. Maka, segera miliki, baca, dan aplikasikan buku inspiratif ini untuk keberuntungan dan kebahagiaan buah hati Anda pada masa yang akan datang. -VisiMedia-
This Book was ranked 8 by Google Books for keyword nama sansekerta.
Thank youKapitalisme bumi putra
By:"Wasino"
Published on 2008 by PT LKiS Pelangi Aksara
E-book Library:"Capitalism"
History of rural economic regarding to the development of sugar industry in Surakarta, Indonesia.
This Book was ranked 35 by Google Books for keyword penelitian kejawen.
Thank youFolk Tales of Indonesia
By:"Afwani Soebiantoro","Manel Ratnatunga"
Published on 1989 by
E-book Library:"Tales"
This Book was ranked 34 by Google Books for keyword dewi sri.
Thank youGerakan Theosofi di Indonesia
By:"Artawijaya"
Published on 2010-01-01 by Al Kautsar
E-book Library:"Religion"
Perkumpulan Theosofi (Theosophical Society) didirikan pertama kali di New York pada tahun 1875 oleh sekelompok orang yang terlibat aktif mempelajari kepercayaan-kepercayaan dan tradisi-tradisi kuno dalam okultisme, mistisisme, dan kabbalah. Pendiri dan tokoh sentral Theosofi adalah Helena Petrovna Blavatsky (1831-1891), seorang perempuan aristokrat Rusia berdarah Yahudi yang dijuluki oleh para pengikutnya sebagai “mother of new age movement” atau “founder of occult fraternities” (Pendiri Persaudaraan Okultis). Tokoh-tokoh lain yang terkenal dalam Theosofi Internasional adalah Henry Steel Olcott (1832-1907), Annie Besant (1847-1933), dan Charles Webster Leadbeater (1847-1934). Sebelum secara resmi diakui sebagai cabang dari Perhimpunan Theosofi Internasional, keberadaan organisasi ini di Nusantara secara tidak resmi sudah terlihat dengan berdirinya The Pekalongan Theosophical Society (Masyarakat Theosofi Pekalongan) pada 1881.Keberadaan kelompok ini pada saat itu sudah mendapat penolakan dari umat Islam setempat karena dianggap menyebarkan paham mistis, kebatinan, dan sihir. Kemudian pada 1901, dibuka loge Theosofi pertama di Semarang, di bawah pimpinan D.G van Niewenhoven Helbach. Periode selanjutnya, pada 1909 berdiri Nederlandsche Indie Onder Afdeling der Nederland Afdeling van de Theosofische Vereniging (NIONATV) atau Perhimpunan Theosofi di Hindia Belanda yang berada dalam wilayah kepengurusan Theosofi di Belanda, dan kemudian pada 1912 berubah menjadi Nederlandsche Indische Theosofische Vereniging (NITV) atau Theosofi Cabang Hindia Belanda, yang berdiri sendiri dan diakui secara resmi oleh markas Theosofi pusat sebagai cabang ke-20, dengan ketuanya Dirk van Hinloopen Labberton. Theosofi kemudian menyebarkan ajaran-ajarannya dengan mendirikan loge-loge di berbagai daerah di Pulau Jawa dan mencetak media massa, seperti Theosofisch Maandblad voor Nederlandsch-Indie (terbit di Semarang), Koemandang Theosofi (terbit di Surakarta), Pewarta Theeosofie Boewat Tanah Hindia Nederland (terbit di Jawa Timur), Majalah Pewarta Theosofie Boeat Indonesia, Majalah Perhimpunan Theosofie Tjabang Indonesia (terbit di Batavia), Majalah Persatoean Hidoep (Terbit di Batavia dan Bandung), Majalah Dyana milik Pemuda Theosofi (terbit di Semarang), Majalah Lotus milik Pemuda Theosofi (terbit di Bandung), dan Berita PB Perwathin (Terbit di Jakarta). Media-media massa ini, selain berisi laporan masing-masing loge dan kegiatan-kegiatannya, juga banyak memuat doktrin-doktrin Theosofi yang digagas oleh Blavatsky dan Annie Besant. Dalam The Key to Theosophy, Blavatsky mengatakan, Theosofi adalah the wisdom religion (agama kebijaksanaan) yang berusaha mempersatukan agama-agama dalam sebuah “Kesatuan Hidup” yang selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan. Tujuan Theosofi, kata Blavatsky, sama dengan apa yang dilakukan oleh seorang Yahudi bernama Ammonius Saccas, yang berusaha mengajak para gentiles (non Yahudi), para pemeluk Kristen, pemuja dewa-dewa, untuk mengenyampingkan tuntutan mereka dengan mengingat bahwa mereka memiliki kebenaran yang sama. Agama menurutnya, adalah tunas-tunas dari batang pohon yang sama, yaitu the wisdom religion. (H.P Blavatsky, Kunci Memahami Theosofi (terj), Jakarta:PB Perwathin, 1972, hal.3) Blavatsky menegaskan, tujuan utama Theosofi adalah mendamaikan semua agama, sekte-sekte, dan bangsa-bangsa di bawah satu etika umum, yang didasarkan pada kenyataan-keyataan abadi. Theosofi mengedepankan persaudaraan universal, supremasi kemanusiaan, dan pentingnya menjadikan nilai-nilai kebaikan sebagai titik temu semua agama-agama. Apa yang dilakukan Theosofi berujung pada sinkretisme teologi, yang kemudian memunculkan banyak istilah global, seperti; agama kemanusiaan, agama universal, agama budi, agama kebijaksanaan, persaudaraan universal, pluralisme, inklusifisme, perenialisme, dan sebagainya. Pada akhirnya, sikap dan pemahaman sinkretrisme teologi itu terjerembab dalam paham netral agama, laa diniyah! Majalah Pewarta Theosofi Boeat Indonesia, No.2, Februari 1930, mengutip pernyataan Annie Besant, yang menyatakan, “Kami berseru kepada kalian semua, marilah kita bekerja bersama-sama untuk agama ketentraman, agama kenyataan, agama kemerdekaan. Di dunia kerajaan dari surga yang sejati, inilah kita punya haluan…” Sementara pada Majalah Perhimpunan Theosofie Tjabang Indonesia (P.T.T.I), No.IV, tahun 1954, disebutkan,“Kebenaran pada pendapat kami tidak dapat dimonopoli. Setiap orang mempunyai kebenaran atau kenyataan sendiri. Begitupun Tuhan, tidak dapat dimonopoli. Tuhan ada dimana-mana, Satu, tiada yang kedua, meliputi segala dan semuanya, Tuhan tidak terbatas.” Theosofi juga berkeyakinan tiap-tiap agama hanya berbeda pada aspek eksoterik (lahir), dan memiliki kesamaan pada aspek esoterik (batin). Mereka berkeyakinan, syariat lahir boleh berbeda, namun hakikat batin tetaplah sama, menuju pada “Yang Satu”. Bagi Theosofi, Yang Satu itu ada dalam setiap agama dan memiliki banyak nama. Dalam Pewarta Theosofi, No. 3, Februari tahun 1930, disebutkan, “Yang menciptakan barang yang ada itu dinamakan Allah, God, Tuhan, dan ada lagi nama-nama apa saja yang orang mau sebutkan.” Theosofi mengartikan kalimat “Laa Ilaaha Ilallah” dengan, “Tiada Gusti Allah, melainkan Gusti Allah.” Dalam tulisan berbahasa Inggris, para penganut Theosofi sering menulis kata “God” dengan “Gods” (dengan tambahan huruf “s” untuk menunjukan lebih dari satu). Tuhan dalam pandangan Theosofi juga bisa termanifestasikan dengan nilai-nilai “Kebaikan” (dengan huruf “K” besar) yang dilakukan manusia. Pancaran nilai Kebaikan inilah yang disebut sebagai pletik Ilahi (God in being). Pletik Ilahi ini, menurut Theosofi, disebabkan karena manusia manunggal dengan Tuhan. Manusia sejati (ingsun sejati) dalam keyakinan Theosofi adalah pancaran dari gambaran Tuhan. Maka, ingsun sejati harus mengamalkan asas-asas Ilahi, yaitu kasih sayang, kebenaran, kesatuan hidup, dan lain-lain. Inilah yang kemudian dalam kebatinan Jawa disebut sebagai “kasampurnaning urip” (kesempurnaan hidup). Inti ajaran Theosofi mengarah pada perenialisme dan pluralisme agama seperti tercermin dalam motto organisasi ini. Dalam inti ajaran Theosofi, agama manapun selama menjunjung tinggi kemanusiaan dan menebarkan kebaikan, maka pada hakikatnya sama. Tidak ada kedudukannya yang lebih tinggi daripada kebenaran. Inilah yang menjadi landasan Theosofi dalam memandang agama. Tidak boleh ada klaim mutlak kebenaran (absolute truth claim) dari satu agama. The ultimate goal dalam hidup ini bagi mereka adalah menebar kebaikan kepada sesama manusia, zonder memandang agama, suku, ras, dan golongan. Meski awalnya Theosofi mengatakan semua agama sama, tetapi pada kesempatan lain Theosofi mengatakan tak perlu beragama, cukup dengan menjalankan lelaku batin, menebar kasih sayang, kebenaran, menolong sesama manusia, dan lain-lain. Ujung-ujungnya adalah perangkap pada lubang ateisme. Inilah pemurtadan yang begitu halus dan rapi. Buku ini mengupas seluk beluk gerakan Theosofi dalam kaitannya sebagai gerakan kebatinan dan hubungannya dengan elit modern Indonesia. Bagi yang menggemari sejarah, buku ini menjadi bacaan penting untuk dikaji dan ditelaah. Sayang jika Anda lewatkan! (Artawijaya) -pustaka al-kautsar-
This Book was ranked 17 by Google Books for keyword penelitian kejawen.
Thank youRamalan Tentang Muhammad Saw
By:"Abdul Haque Vidyarthi","?Abd al-A?ad D?w?d"
Published on 2008-02-01 by Hikmah
E-book Library:"Religion"
Sebagai sebuah ajaran, Islam yang dibawa Muhammad Saw. bukanlah sesuatu yang sama sekali baru. Ia menjadi kelanjutan dari ajaran Tuhan yang diturunkan kepada umat terdahulu. Ini bisa dilihat dari banyaknya ritual yang dilakukan umat terdahulu diajarkan dalam Islam. Meskipun dengan penyempurnaan di sana-sini. Yang lebih tak terbantahkan lagi adalah Islam mengajarkan tauhid sebagaimana ajaran agama-agama yang dibawa oleh para Nabi sebelum Muhammad Saw. Lebih dari itu, lewat buku ini, keberlanjutan ajaran Muhammad semakin tak terbantahkan. Dalam buku ini diuraikan adanya nubuat (ramalan ) tentang kehadiran Muhammad dalam kitab suci agama-agama. Dalam kitab suci agama Zoroaster misalnya, Muhammad disebut sebagai ?nabi yang dijanjikan?. Dalam Weda, Muhammad diberi gelar Narashansah astvishyate (Muhammad yang Terpuji dan Diagungkan). Sementara Buddha Gautama meramalkan kehadiran Muhammad dengan menyebutnya sebagai Buddha Maitreya. Dalam perjanjian lama Muhammad disebut sebagai Himada yang membawa Shalom (sama dengan Muhammad yang membawa Islam). [Mizan, Hikmah, Agama, Indonesia]
This Book was ranked 13 by Google Books for keyword ramalan cinta.
Thank youBekerja Sebagai TNI AD
By:"Dyah Novieta Handayani"
Published on 2008-01-23 by PT PENERBIT ERLANGGA MAHAMERU
E-book Library:
Seri \
This Book was ranked 35 by Google Books for keyword mesir kuno.
Thank you